Aku menyiramkan air beku itu ke tubuhku. Membiarkan kebekuannya menembus kulitku, meretakkan persendianku, membiarkannya membuatku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Yang kutahu hanya beku. Aku tidak tahu entah bagaimana, tapi kakiku terasa nyeri. Nyeri yang sangat menusuk. Aku membiarkannya, dan terus menyiramkan air itu dengan tuangan-tuangan besar ke tubuhku, mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalaku.
Tapi tetap saja, rasa itu terus bergumul di sana. Marah, sedih, bersalah, egois, semuanya campur-aduk. Dan dinginnya hari ini seakan membantu melengkapi dinginnya hatiku. Sambil terus menyiramkan air beku itu ke tubuhku, memoriku menjelajahi setiap ingatan yang kupunya, memutar setiap adegan, memainkan setiap kata-kata.
Kapan aku tahu dia? Oh bahkan sebelum aku masuk ke kehidupan itu aku sudah tahu ada orang bernama dia di sana.
Kapan aku kenal dia? Kapan? Aku tak peduli siapa dia.
Kenapa aku menulis tentang dia? Apa perlu alasan?
Kenapa dia? Apa aku bisa memilih?
Kapan dia membuatku tersenyum? Sering.
Kapan dia mebuatku menangis? Setiap malam, tapi bukan salahnya.
Aku mencintainya? Tidak tahu.
Aku peduli tentang dia? Waktu dia luka aku takut. Itu peduli?
Apa aku menunggunya setiap hari? Sangat.
Guyuran air itu bertambah menyakitkan.
Dia tahu... aku? Tahu, kenapa tidak?
Dia kenal aku? Iya.
Terus ada masalah? Ada! Sepertinya aku memang mencintainya. Yasudah, biarkan saja perasaanmu mengalir! Nggak segampang itu! Kenapa? Aku nggak bisa... Kenapa nggak bisa? Kau hanya harus membiarkannya mengalir saja. Susah, terlalu menyakitkan mencintai orang yang nggak akan bisa membalas cinta kita.
Air itu bertambah dingin ketika semuanya berputar. Caranya memanggilku, senyumnya, caranya berjalan, caranya memandang lapangan saat dia berjalan di koridor lantai dua, caranya duduk di tangga, bagaimana dia makan, bagaimana dia tertawa, bagaimana dia membetulkan letak kacamatanya, bagaimana dia hormat setiap upacara, bagaimana... Ah terlalu banyak, sakit.







