YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 12 Desember 2010

Prolog

Matahari menyemburkan semburat merahnya di batas cakrawala. Namun perlahan - lahan, matahari mulai turun dan semburat merahnya yang menjingga seperti membelah lautan. Debur ombak di bawahnya semakin menguat, berlari menghempas karang, tak peduli pada semburat jingga yang menambah indah dirinya, ombak tetap begitu. Tetap mengarungi lautan dengan percikannya yang gagah. Tak pernah lelah berkejar-kejaran meski kerap harus menabrak karang.

Di pesisir pantai, di pinggir-pinggir tempat hempasan akhir ombak yang membawa buih-buih garam, dua anak manusia berdiri, menghadap ke arah batas cakrawala yang tergaris lurus di sana. Tak peduli kaki mereka tersapu ombak, tak peduli kaki mereka terbenam semakin dalam di pasir lautan, tak peduli pecahan-pecahan cangkang kerang menggores kaki telanjang mereka, mereka tetap berdiri di sana, menemani lautan yang hendak menyambut malam. Inka dan Egar, itu mereka. Rambut Inka berkibar didera angin pantai. Lalu mereka merentangkan tangan, Egar menggenggam tangan Inka dan mereka tertawa lebar.

“Gar, kita kayak Jack sama Rose ya,” ucap Inka lalu tertawa lepas.
                
“Iya. Makanya, kamu juga harus kuat kayak Rose,” jawab Egar.
                
 Inka langsung melepaskan genggamannya dan berbalik, “Maksudmu Gar? Aku ini kuat loh.”
                
 “Iya aku tahu, kamu memang kuat. Tapi kamu harus lebih kuat dari ini,” Egar tersenyum.
                
 “Hah? Egar sok dewasa ah,” Inka mendorong bahu Egar pelan.
                
 Lalu mereka menghabiskan sore yang indah itu dengan berkejar-kejaran di tepi pantai.

               --
                
Tapi yang nyata, tak ada yang berkejar-kejaran sore itu, tak ada percakapan, tak ada tawa lepas, tak ada genggaman tangan. Yang ada hanya seorang wanita yang duduk di garis pantai, membiarkan pakaiannya dibasahi ombak, membiarkan tatapannya menerawang jauh, membiarkan ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, membiarkan rasa rindu yang begitu kuat meresapi dirinya, dan membiarkan rasa kehilangan yang begitu dalam menusuk semua persendiannya.


                “Kau tahu, harapanku masih ada, tersimpan di sepanjang garis cakrawala yang tak pernah putus. Tapi ombak mengikisnya setiap detik, dan aku tahu harapanku semakin jauh. Andai bisa, akan kujejak lautan ini dengan kakiku untuk mencarimu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar