YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Senin, 06 Oktober 2014

Yang Entah Aku Menyebutnya Apa

Seharusnya nggak ada yang perlu ditangisi di dunia ini.
Seharusnya seperti itu.
Tapi pahamkah bahwa kita tak jarang juga melanggar keseharusan itu, untuk satu alasan?
Hati.

Banyak hal yang bisa dicari didunia ini.
Tapi ada satu yang tidak bisa.
Kenangan, momen, memori.
Apa pun kau menyebutnya, intinya seperti itu lah.

Ingatkah ada saat-saat mendengar lagu saja seperti menghantamkan batang pohon besar ke dada?
Lewat di suatu tempat saja seperti ingin menangis sekaligus tertawa?

Pasti kita semua pernah merasakannya.
Tanyakan pada hati-hati kita, mungkin mereka sudah terlalu berat menyimpannya.
Tanya saja.
Setidaknya dia bisa membaginya walaupun hanya sekedar jawaban.

Kenangan, momen, memori,
lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Tidak ada 5 September yang sama, kalaupun sama, pasti berbeda di entah 2014-nya, 2015-nya,
tidak akan pernah sama.

Tidak ada sofa yang pernah sama.
Tidak ada malam yang sama.
Tidak ada sepiring tahu tek-tek yang sama.
Tidak ada sekotak terang bulan coklat holland yang sama.
Tidak ada kertas-kertas yang sama.
Tidak ada tawa yang sama.
Tidak ada canda yang sama.

Mungkin aku masih ingat,
detail bagaimana tawa itu menguar di udara,
membuat aku menambah rasa syukurku menjadi salah satu penghuni bumi ini.
Mungkin aku masih ingat,
bagaimana lampu-lampu kota bercerita,
bagaimana angin malam berhembus,
bagaimana membuat ketakutan itu menjadi kekuatanku.
Mungkin aku masih ingat,
bagaimana tangis itu terdengar begitu tulus,
bagaimana rasa khawatir itu kentara sekali di wajah,
mungkin aku masih ingat.
Dengan sangat jelas, malah.

Yah, setidaknya, aku masih ingat,
meskipun semuanya tak akan pernah sama lagi.
Setidaknya, aku pernah terpilih.
Setidaknya, tawa yang menguar di udara itu pernah menjadi bagian dari tawaku.
Setidaknya, aku pernah memiliki kalian.

Yang entah aku harus menyebutnya apa.
Kalian terlalu baik.
Sangat baik.

Senin, 12 Mei 2014

Life is Better with Friends

Life is better with friends. Meskipun kata-katanya sederhana, tapi maknanya dalem loh. Buat aku pribadi mungkin dalam banget. Hehe. Background ini ngingetin aku sama salah satu sahabatku. Liliana Nur Fitria a.k.a. Lili, yang karena ada dia, duniaku jadi rame. Jadi ceritanya gini nih, dulu itu, Lili dapet julukan "no food no friend", soalnya dia bakal muncul tiba-tiba di samping kita kalo kita punya makanan. Trus, aku iseng-iseng buka hapenya, ternyata dia masang wallpaper yang sama persis kayak background yang aku pake sekarang. Eh aku lupa, aku yang ganti wallpapernya apa emang dia yang masang gitu. Trus, sejak itu, aku manggil dia "friend forever". Sometimes we look like children. But... itulah persahabatan, punya caranya masing-masing untuk menjalaninya. Miss you Lili.....

Jumat, 02 Agustus 2013

Teruntuk Lima Belasku


Saya percaya, saya percaya kita bisa tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berikan yang terbaik buat dunia. Saya selalu percaya sejak awal melihat beratus kalian dulu itu. Saya selalu dan akan selalu percaya. Kalian tahu? Tuhan sangat baik sudah mempertemukan saya dengan kalian. Tuhan sangat baik karena ngasih saya kesempatan buat hidup bersama kalian. Tuhan sangat baik karena memberi kalian untuk saya. Kita, kita beratus ini tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi kita punya dunia di tangan-tangan kita. Kita punya dunia di hati-hati kita. Kita punya kebesaran yang banyak orang di luar sana tidak punya. Kita punya kebersamaan dalam tautan jari-jari kita. Kita punya kekuatan yang kita bangun dari setiap keringat yang jatuh di lapangan tempat kita mengambil posisi push up, sikap buddha, jalan jongkok, di kantin tempat sendok garpu dan ompreng kita beradu -- berlomba-lomba dengan ocehan yang keluar dari mulut kita, di koridor tempat kita menyaksikan banyak drama menjengkelkan menyedihkan, menggemberikan, dan banyak kisah lainnya. Cinta kita...cinta kita beratus ini, sesederhana petikan gitar di malam-malam saat kita merenung. Menghitung kembali berapa lama yang kita punya, berapa ratus hari lagi yang bisa kita genggam bersama. Cinta kita...juga sesederhana inspirasi, yang muncul dari hati, pikiran, terbawa oleh darah ke seluruh penjuru tubuh dan bermuara di mata, semangat di ujung jari-jari kita... Sesederhana cinta itu sendiri. Cinta kita...sesederhana angka lima belas. Sesederhana saat angka lima dikalikan tiga. Sesederhana saat kita tidak butuh dua untuk membaginya. Tapi kita butuh tiga. Kenapa dua tidak lebih sederhana daripada tiga? Karena di dalam tiga ada aku, kamu, dan kita. Utuh. Itu definisi dari tiga. Dan tiga dikali lima, itulah kesederhanaan, kesederhanaan dalam cinta kita yang begitu besar. Cintaku... tetap pegang janji kita pada dunia, ya. Dunia percaya kita mampu memetik senarnya semerdu yang dia minta, bahkan bisa lebih merdu. Dunia percaya kita punya kekuatan itu dalam setiap air mata, keringat, dan tautan jari-jari kita. Cinta...terima kasih telah memberiku cinta ini. Dedicated to Angkatan 15, Fifteen Inspiration for All. Saya akan selalu merindukan kalian :')

Cinta Jenis Baru

Oke, kali ini saya mau cerita. Sebuah cerita yang terulang tapi dengan tokoh yang jaaaaauh berbeda. Jadi, saya jatuh cinta. Pada orang yang tidak mungkin untuk di jatuh cintai. Pada orang yang tidak nyata dalam dunia saya. Pada orang nun jauh di sana yang saya sukai bibirnya, caranya menyanyi, pada dia. Terkadang saya berpikir, di dunia ini ada berapa jenis cinta, sih? Saya sudah merasakan beberapa jenis di antaranya. Tapi apakah cinta yang tidak mungkin nyata seperti ini ada? Mungkin tidak ada. Mungkin yang ada hanya saya yang terlalu berani menciptakan dunia nyata saya sendiri. Oke, siapapun boleh sebut saya tidak waras. Tapi tidak. Sebenarnya tidak. Setidaknya saya masih waras, saya masih bisa membedakan yang mana yang sakit dan yang mana yang tidak. Setidaknya saya tidak bertahan mencintai orang yang menyakiti saya. Setidaknya saya mencintai orang yang tidak menyakiti saya. Setidaknya saya... masih punya mimpi. Tidak, sebenarnya mungkin ini bukan cinta seperti yang biasa kalian definisikan. Ini adalah cinta dalam bentuk lain. Cinta dalam bentuk mimpi. Dan rindu. Ya, mimpi dan rindu. Jadi, bolehkah saya mendeklarasikan cinta jenis baru yang baruuuu saja saya tahu ini? Cinta tentang mimpi dan rindu? Bolehkah? Andai saja..... andai saja... Ah, if you could see me now.

Kamis, 16 Mei 2013

Tentang Mereka


Karena hidup punya arti bagi masing-masing mereka.

Foto ini punya banyak makna buat saya, meskipun hanya diambil dari sebuah digital camera, bukan SLR dengan lensa yang entah apa namanya seharga belasan juta, tapi hei, bahkan memiliki sebuah digital camera itu pun harus disyukuri. Itu mereka, penari jalanan yang menggantungkan hidupnya dari kesediaan orang-orang menaruh uang di wadah yang mereka sodorkan. Saya juga lupa mereka itu bagaimana, setahu saya dari cerita orang yang mengambil foto ini secara langsung, yang lelaki - maaf - cacat, sedangkan yang wanita itu adalah adiknya. Mereka menari, menari dengan benda seperti hulahup itu.

Terkadang saya sedih kalau benar-benar melihat foto ini dan memaknainya. Mereka tersenyum jika mereka menyenangkan orang-orang. Bagi mereka, bahagia tidak lebih dari menyenangkan orang lain, bahagia tidak harus dengan berjalan-jalan keluar negeri ataupun memiliki gadget keluaran terbaru. Bagi mereka bahagia adalah bisa terus hidup.

Cukup, karena hidup tidak harus keras, cukup dilalui dan dirasakan, dimaknai dan dikecap. Maka sejauh itulah hidup akan terus berjalan.

Mata-mata kita menyimpan harapan, mata-mata mereka yang sudah lebih sekalipun pasti menyimpan harapan, tidak ada yang tidak memiliki harapan. Tapi bagi mereka, harapan mungkin lebih sederhana. Bagi mereka, harapan adalah melihat hari esok.

Tentang penari jalanan yang tidak sempurna tetapi menyempurnakan.