YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 14 Desember 2010

Dia Senyum ke Aku!

Pagi itu... 14 Desember 2010
Di sekolah lagi ada tanding badminton antarkelas. Aku sama temen-temen iseng aja nonton, duduk di pinggir lapangan. Kan lapangan ada dua sisi tuh. Nah yang kanan dipake buat badminton, yg kiri dipake buat ngebola sama anak-anak cowoknya. Dia pastinya ikut maen lah, anak futsal gitu! Haha

Mataku ya tentu aja gak ngeliat jalannya pertandingan badminton, cuma dengerin cuap-cuapnya komentator lewat speaker aja. Tau gak mataku ke mana? Ke arah dia! Ngikutin dia lari pake mataku, ngeliatin setiap gerakannya, ah, memesona!

Temen-temen pada tahu aku ngeliatin dia. Udah hapal banget kelakuanku haha. Trus tiba-tiba Elsa teriak manggil namanya, biasalah dia suka ngiseng. Abis teriak gitu si Elsa cuek bebek langsung berpaling ke pertandingan badminton.

Eh aku kira dia cuek aja sama teriakan itu. Dan yang aku dapati dia ngelihat ke arahku, dan senyum! SENYUM HEI! KE AKU! Oh mungkin dia kira yang manggil dia itu aku haha. Aku seneng banget! Pertama kalinya aku disenyumin sama cowok yang tahu perasaanku ke dia! Aku nggak nyangka! Aku langsung heboh sendiri ya ampun... Gak peduli berapa banyak anak-anak yang denger aku heboh!

Abis gitu aku baru mikir, aku nginget senyumnya. Itu seperti sebuah senyum yang... terpaksa? Mungkin, aku juga susah ngartiinnya. Yah biarlah, terpaksa atau enggak, aku senang kok liat senyumnya yang indah itu, buat aku lagi!


MI, terus senyum buat aku ya :) agar senyummu bisa terus kuingat dalam benakku dan bisa kubawa ke dalam mimpiku, agar aku tahu setidaknya kau masih hidup di dunia yang sama denganku :)

Senin, 13 Desember 2010

Dia menyukai status facebook-ku yang isinya tentang dia, damn :)

Haha statusku di-like sama dia. STATUSKU BUAT DIA DI-LIKE SAMA DIA! DI-LIKE SAMA ORANG YANG BAHKAN AKU SANGKA GAK NYADAR AKU INI TEMAN DI FACEBOOKNYA! Aku langsung heboh sendiri, heboh daripada waktu aku nelpon deva, waktu deva ngesms semua DS dan aku termasuk salah satunya. Aku heboh, bukan kelakuan! Tapi HATI! HATIku heboh sampe jedam-jedum gak karuan, perutku ikutan melilit sampe gatau gimana rasanya, tanganku gemetaran, aku kedinginan! KACAU!

MUKAMU TUH NAH! AKU NDAK TAHAN LIAT FOTO PROFILMU! SOMBONG! GAGAH! AKU NDAK TAHAN! AKU MAU REMOVE KAU TAPI AKU NDAK MAU (?) AKU MAU --------- aaaaaaargggggggghhhhh aku gak tau harus ngomong apa lagi!

Aku sakit kau like statusku, statusku yang ini:
Tiap buka akun facebook ada satu hal yang nggak pernah absen kulakukan, melihat akun facebookmu, membaca status-statusmu, membaca tulisan di wallmu... Itu menyakitkan, tapi entah kenapa jari jemariku tetap saja tak bisa mengendalikan keinginan untuk membuka akun fbmu yang menyakitkan itu. Damn haha


Ya Allah :( apa maksudmu ngelike? Mau nunjukin kalo 'iya aku tau yang kamu maksud itu aku' ato kamu juga ngerasa begitu sama seseorang dan kamu setuju terus kamu ngelike?


Kenapa sih semuanya serumit ini? Aku nggak ngerti jalan pikiranmu! Anggap aja lah kamu gak peduli sama aku, sama statusku, atau apa pun lah! Semuanya! Anggap aku gak ada, anggap aku gak pernah kenal kau!


Tapi ini? Kau malah ngebingungin! Ngebuat...... aaaah aku males sama kau!


Aku sedih,
aku pengen nangis,
aku pengen kau pergi,
aku pengen aku gak ingat kau...


*ditulis dengan perasaan kacau

 

Soundtrack Narnia : The Lion, The Witch, and The Wardrobe from http://www.soundtrack.net/albums/database/?id=3943

1.  The Blitz, 1940 2:32
2.  Evacuating London 3:38
3.  The Wardrobe 2:54
4.  Lucy Meets Mr. Tumnus 4:10
5.  A Narnia Lullaby 1:12
6.  The White Witch 5:30
7.  From Western Woods to Beaversdam 3:34
8.  Father Christmas 3:20
9.  To Aslan's Camp 3:12
10.  Knighting Peter 3:48
11.  The Stone Table 8:06
12.  The Battle 7:08
13.  Only the Beginning of the Adventure 5:32
14.  "Can't Take It In" - Imogen Heap 4:42
15.  "Wunderkind" - Alanis Morissette 5:19
16.  "Winter Light" - Tim Finn 4:13
17.  "Where" - Lisbeth Scott 1:54
  Total Album Time: 70:44 

Minggu, 12 Desember 2010

Prolog

Matahari menyemburkan semburat merahnya di batas cakrawala. Namun perlahan - lahan, matahari mulai turun dan semburat merahnya yang menjingga seperti membelah lautan. Debur ombak di bawahnya semakin menguat, berlari menghempas karang, tak peduli pada semburat jingga yang menambah indah dirinya, ombak tetap begitu. Tetap mengarungi lautan dengan percikannya yang gagah. Tak pernah lelah berkejar-kejaran meski kerap harus menabrak karang.

Di pesisir pantai, di pinggir-pinggir tempat hempasan akhir ombak yang membawa buih-buih garam, dua anak manusia berdiri, menghadap ke arah batas cakrawala yang tergaris lurus di sana. Tak peduli kaki mereka tersapu ombak, tak peduli kaki mereka terbenam semakin dalam di pasir lautan, tak peduli pecahan-pecahan cangkang kerang menggores kaki telanjang mereka, mereka tetap berdiri di sana, menemani lautan yang hendak menyambut malam. Inka dan Egar, itu mereka. Rambut Inka berkibar didera angin pantai. Lalu mereka merentangkan tangan, Egar menggenggam tangan Inka dan mereka tertawa lebar.

“Gar, kita kayak Jack sama Rose ya,” ucap Inka lalu tertawa lepas.
                
“Iya. Makanya, kamu juga harus kuat kayak Rose,” jawab Egar.
                
 Inka langsung melepaskan genggamannya dan berbalik, “Maksudmu Gar? Aku ini kuat loh.”
                
 “Iya aku tahu, kamu memang kuat. Tapi kamu harus lebih kuat dari ini,” Egar tersenyum.
                
 “Hah? Egar sok dewasa ah,” Inka mendorong bahu Egar pelan.
                
 Lalu mereka menghabiskan sore yang indah itu dengan berkejar-kejaran di tepi pantai.

               --
                
Tapi yang nyata, tak ada yang berkejar-kejaran sore itu, tak ada percakapan, tak ada tawa lepas, tak ada genggaman tangan. Yang ada hanya seorang wanita yang duduk di garis pantai, membiarkan pakaiannya dibasahi ombak, membiarkan tatapannya menerawang jauh, membiarkan ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, membiarkan rasa rindu yang begitu kuat meresapi dirinya, dan membiarkan rasa kehilangan yang begitu dalam menusuk semua persendiannya.


                “Kau tahu, harapanku masih ada, tersimpan di sepanjang garis cakrawala yang tak pernah putus. Tapi ombak mengikisnya setiap detik, dan aku tahu harapanku semakin jauh. Andai bisa, akan kujejak lautan ini dengan kakiku untuk mencarimu.”