YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 02 Agustus 2013

Teruntuk Lima Belasku


Saya percaya, saya percaya kita bisa tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berikan yang terbaik buat dunia. Saya selalu percaya sejak awal melihat beratus kalian dulu itu. Saya selalu dan akan selalu percaya. Kalian tahu? Tuhan sangat baik sudah mempertemukan saya dengan kalian. Tuhan sangat baik karena ngasih saya kesempatan buat hidup bersama kalian. Tuhan sangat baik karena memberi kalian untuk saya. Kita, kita beratus ini tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi kita punya dunia di tangan-tangan kita. Kita punya dunia di hati-hati kita. Kita punya kebesaran yang banyak orang di luar sana tidak punya. Kita punya kebersamaan dalam tautan jari-jari kita. Kita punya kekuatan yang kita bangun dari setiap keringat yang jatuh di lapangan tempat kita mengambil posisi push up, sikap buddha, jalan jongkok, di kantin tempat sendok garpu dan ompreng kita beradu -- berlomba-lomba dengan ocehan yang keluar dari mulut kita, di koridor tempat kita menyaksikan banyak drama menjengkelkan menyedihkan, menggemberikan, dan banyak kisah lainnya. Cinta kita...cinta kita beratus ini, sesederhana petikan gitar di malam-malam saat kita merenung. Menghitung kembali berapa lama yang kita punya, berapa ratus hari lagi yang bisa kita genggam bersama. Cinta kita...juga sesederhana inspirasi, yang muncul dari hati, pikiran, terbawa oleh darah ke seluruh penjuru tubuh dan bermuara di mata, semangat di ujung jari-jari kita... Sesederhana cinta itu sendiri. Cinta kita...sesederhana angka lima belas. Sesederhana saat angka lima dikalikan tiga. Sesederhana saat kita tidak butuh dua untuk membaginya. Tapi kita butuh tiga. Kenapa dua tidak lebih sederhana daripada tiga? Karena di dalam tiga ada aku, kamu, dan kita. Utuh. Itu definisi dari tiga. Dan tiga dikali lima, itulah kesederhanaan, kesederhanaan dalam cinta kita yang begitu besar. Cintaku... tetap pegang janji kita pada dunia, ya. Dunia percaya kita mampu memetik senarnya semerdu yang dia minta, bahkan bisa lebih merdu. Dunia percaya kita punya kekuatan itu dalam setiap air mata, keringat, dan tautan jari-jari kita. Cinta...terima kasih telah memberiku cinta ini. Dedicated to Angkatan 15, Fifteen Inspiration for All. Saya akan selalu merindukan kalian :')

Cinta Jenis Baru

Oke, kali ini saya mau cerita. Sebuah cerita yang terulang tapi dengan tokoh yang jaaaaauh berbeda. Jadi, saya jatuh cinta. Pada orang yang tidak mungkin untuk di jatuh cintai. Pada orang yang tidak nyata dalam dunia saya. Pada orang nun jauh di sana yang saya sukai bibirnya, caranya menyanyi, pada dia. Terkadang saya berpikir, di dunia ini ada berapa jenis cinta, sih? Saya sudah merasakan beberapa jenis di antaranya. Tapi apakah cinta yang tidak mungkin nyata seperti ini ada? Mungkin tidak ada. Mungkin yang ada hanya saya yang terlalu berani menciptakan dunia nyata saya sendiri. Oke, siapapun boleh sebut saya tidak waras. Tapi tidak. Sebenarnya tidak. Setidaknya saya masih waras, saya masih bisa membedakan yang mana yang sakit dan yang mana yang tidak. Setidaknya saya tidak bertahan mencintai orang yang menyakiti saya. Setidaknya saya mencintai orang yang tidak menyakiti saya. Setidaknya saya... masih punya mimpi. Tidak, sebenarnya mungkin ini bukan cinta seperti yang biasa kalian definisikan. Ini adalah cinta dalam bentuk lain. Cinta dalam bentuk mimpi. Dan rindu. Ya, mimpi dan rindu. Jadi, bolehkah saya mendeklarasikan cinta jenis baru yang baruuuu saja saya tahu ini? Cinta tentang mimpi dan rindu? Bolehkah? Andai saja..... andai saja... Ah, if you could see me now.

Kamis, 16 Mei 2013

Tentang Mereka


Karena hidup punya arti bagi masing-masing mereka.

Foto ini punya banyak makna buat saya, meskipun hanya diambil dari sebuah digital camera, bukan SLR dengan lensa yang entah apa namanya seharga belasan juta, tapi hei, bahkan memiliki sebuah digital camera itu pun harus disyukuri. Itu mereka, penari jalanan yang menggantungkan hidupnya dari kesediaan orang-orang menaruh uang di wadah yang mereka sodorkan. Saya juga lupa mereka itu bagaimana, setahu saya dari cerita orang yang mengambil foto ini secara langsung, yang lelaki - maaf - cacat, sedangkan yang wanita itu adalah adiknya. Mereka menari, menari dengan benda seperti hulahup itu.

Terkadang saya sedih kalau benar-benar melihat foto ini dan memaknainya. Mereka tersenyum jika mereka menyenangkan orang-orang. Bagi mereka, bahagia tidak lebih dari menyenangkan orang lain, bahagia tidak harus dengan berjalan-jalan keluar negeri ataupun memiliki gadget keluaran terbaru. Bagi mereka bahagia adalah bisa terus hidup.

Cukup, karena hidup tidak harus keras, cukup dilalui dan dirasakan, dimaknai dan dikecap. Maka sejauh itulah hidup akan terus berjalan.

Mata-mata kita menyimpan harapan, mata-mata mereka yang sudah lebih sekalipun pasti menyimpan harapan, tidak ada yang tidak memiliki harapan. Tapi bagi mereka, harapan mungkin lebih sederhana. Bagi mereka, harapan adalah melihat hari esok.

Tentang penari jalanan yang tidak sempurna tetapi menyempurnakan.

Minggu, 03 Februari 2013

part-2 part-y

Lagi pengen nulis nih, tapi bukan autobiografi .-. Males banget besok udah sekolah aja. 2 minggu bung ga belajar, nyaman banget coba! Tahu nggak perasaan yang mendominasi sekarang itu... sedih. Hehe :') Sering sih kayak gini ngerasain gimana sakitnya bikin acara, ketawa nangis bareng panitianya, terus acaranya selesai. Udah. Emang sih ngga ada yang spesial, cinta lokasi atau apa pun lah itu. Tapi tetep aja, dari x-specta ini... orang-orang yang aku awalnya cuma tahu nama aja sekarang jadi deket.

Ngga tahu aku yang terlalu melankolis atau gimana, tapi aku bener-bener pengen mutar waktu lagi. Ke sibuk-sibuknya pas nyiapin hut sekolah, ga mandi sampe sore gara-gara capek ngatur ini itu, jadi penghuni setia RO, rukes, sama audit padahal sumpah buat aku lebih mending ngebo di kamar sampe magrib. Ngepick-up sama kawanan super gatau malu ini, ngelambai-lambai di jalanan, numpang di bak pick up, bediri di atasnya berasa kayak lagi di Titanic gitu. Bebodokan di mobil dari pagi sampe sore, nyinggahi Pramuka sampe tiga kali dalam seminggu. Punya keluarga kecil nan indah tp lelo gegara ip trus kelaparan dan ngga punya duit buat makan.

:")

Sedih sedih sedih sedih sedih. Tapi bisa apa lagi? Tinggal nulis kenangannya doang. Dan begonya, baru inget kalo aku ga banyak foto-foto haha ga apa deh.

x-specta. paling gede. paling capek. paling berasa. sayang. tetap temenan ya. sampe nanti. :)

Buat Faris, Kapten Sakit Mata

Ris, makasi buat ngetuain kami, buat kami bersatu, dapetin banyak pelajaran, dapetin banyak teman-teman baru. Makasi Ris mau berubah waktu itu. Biarpun kesel, jengekel, dan gimana pun, aku bersyukur x-specta ini pernah ada. Ga rela loh Ris sebenernya ninggalin ini. Aku sayang panitianya, anak-anak acara, bendahara, sekretaris, apalagi ketuanya ;))
FIFA hebat Ris, banget! Walopun kita sering ga dihargai, tp toh kita bisa! Love you dah! Tetep jaga temenannya walaupun udah pembuabaran nanti yaa. Capek but.....love that! :')